.::bisikan kalbu::. · cerita pendek · Setangkup Roti Cokelat

:: Kau Adalah Sayapku dan Kau Tak Tahu ::

…saat aku terjatuh dari dari tebing ujung kehidupan, kau ada di bawah…

tertubruk oleh tubuh gendutku dan aku lalu tak jadi mati…

***

Alih-alih menyelesaikan paper Elektronika Telkom aku memilih menyeruput teh manis yang sudah tiga perdelapan dingin.

Aku mengantuk, kelelahan, tapi paper-paper itu bersinar putih begitu terang karena tak setetes pun tinta ilmu terukir padanya.

Ah, sudahlah. Aku sedang mengantuk. Aku ingin menghabiskan cangkir berkafein rendah itu sampai tandas. Lalu…bagaimana kalau menyelesaikan paper-ku?
^^v

Tidak, ah. Aku malas. Aku ingin mengingatmu saja. Mengingat kau – sayapku- dan aku yakin kau tidak tahu.

***

Di hari itu, saat badai tengah memporak-porandakan indahnya musim semi. Aku menyalak, mengaum, mengembik, mengeong sekuat tenaga sekeras mungkin aku bisa, tapi ternyata tak sedikit pun sang badai menengok pada mata yang sesaat lagi menganak sungai…

Di saat itu hujan lalu turun dengan amarah, aku hanya dapat meringkuk di sudut dalam kardus tua di depan toko tua yang sudah lama tak buka karena dijarah oleh banyak orang gila. Sambil…terisak tak karuan.

Sepi sekali saat itu. maksudku hatiku. Walau sepertinya dalam samar aku melihat banyak yang lalu lalang di depanku. Sambil memakai payung kuning, dan ada juga yang berpayung daun pisang… yang paling menjengkelkan adalah mobil-mobil mahal berpertamax (tau darimana, coba?). Cipratannya mengenai ujung sarung kotak-kotak biruku –hadiah lebaran setahun yang lalu-. Aku jengkel tapi tetap diam dan kembali menyerah pada hati yang sedang tak karuan.

Dan di saat itu kau tiba-tiba lewat setengah berlari karena tidak memakai payung. Kau lewat dan lalu berhenti di depanku. Tanpa kata-kata, tanpa basa-basi dan langsung menyerahkan segelas teh manis yang masih hangat kemudian bergegas pergi.

Aku sedikit terpaku dengan kedua tangan menggenggam gelas plastik berisi teh –minuman kesukaanku-. Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih!

Dan karena itu aku menyembulkan kepalaku sedikit dari ujung kardus tua, mendapati sosokmu yang belum terlalu jauh dan berteriak, “Aku suka teh!”

Kau berhenti, menoleh, tersenyum, melambai, lalu kembali bergegas pergi.

Aku terkejut. Bicara apa aku barusan? Seharusnya aku bilang terima kasih.
“terima kasih”, gumamku –bukan berkata padanya seperti seharusnya-. “Aku suka teh”, bisikku sambil tersenyum tenang dan mulai menyeruput teh panas manis itu perlahan.

Dan saat itu, kau adalah sayapku, dan aku yakin kau tak pernah tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s