.::bisikan kalbu::. · Setangkup Roti Cokelat

Sebuah Tempat yang Mungkin Salah

Kisah ini kudengar sendiri dari mulut seekor elang cokelat muda yang lahir di gunung selatan. Sejak kecil si elang punya bakat berlari seperti kijang, mengaum seperti singa (bukan memekik layaknya elang-elang lain) dan pandai berbahasa kupu-kupu.

Pada suatu hari si elang jatuh cinta pada terumbu karang yang ia temui di tepi pantai saat sekelompok orang baru saja mencabik-cabik hati si elang.

Terumbu karang tak pernah menampakkan wajahnya karena ia memang mengaram di dalamnya laut. Hanya sekedar pekikan-pekikan semangat biasa, kata si terumbu karang. Pekikan-pekikan semangat “biasa” yang berefek luar biasa pada si elang cokelat muda.

Sampai suatu hari sang terumbu karang tak bersuara lagi. Kepiting merah mengatakan si terumbu karang pergi ke Belanda karena ingin menanam tulip hitam. Tulip hitam.

Begitulah ceritanya.

Si elang pun belajar dari kecewa. Belajar dari sakit. Belajar dari ketidakpastian. Belajar dari harapan yang kosong.



Dan,
Sebuah harapan baru-kah?
Karena si elang mulai belajar berenang.
Tidak. Bukan belajar.
Ia memaksakan diri untuk berenang.
Walau ayah dan ibunya telah melarang
“Kau tak tahu berenang, nak!”kata ibunya.
“Aku mau, Bu! Aku mau berenang.”kata si elang.
“Kau yakin mampu, nak?”tanya ayahnya kemudian.
Si elang hanya mengagguk. Setengah mantap dan setengah layu saat ayahnya memalingkan wajahnya untuk menyeruput kopi hitam pekat buatan ibunya.

Baik. Belajar berenang.

Sudah tahun ketiga. Dan si elang belum bisa berenang. Ia mungkin sudah mulai mengapung tapi memakai pelampung berwarna oranye cerah. Ya, berwarna oranye cerah.

Si elang mulai putus asa. Kembali pada orangtuanya dan mengaku tak bisa berenang hanya akan mengecewakan mereka. Lalu untuk bertahan? Bertahan pada sesuatu yang rapuh? Bisa,kah? Kembali memaksakan diri untuk belajar berenang sementara ia memang tak dilahirkan untuk bisa berenang?

Tidak ada yang peduli ia memang ditakdirkan untuk jadi perenang atau tidak. Toh orang-orang hanya melihat bahwa si elang sudah pandai berenang atau tidak apalagi ini sudah tahun ketiganya. Seisi lautan hanya bisa mencemooh karena si elang belum juga pandai berenang walau sayap si elang sudah mulai berlumut karena terendam air.

Elang tahu ia berada di tempat yang salah. Di tempat yang tak semestinya. Tapi untuk kembali memulai langkahnya seperti tidak mungkin lagi. Benar-benar mustahil.

Jadi, si elang harus bagaimana?

30122009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s