Setangkup Roti Cokelat

Kepada Mereka Sahabatku Sang Pengader

Siapa yang menyangka? Sudah hampir tiga tahun ubin di lantai tiga dijejaki oleh langkah-langkah kaki kita. Mulai dari langkah pelan dan tundukan yang dalam, berlari-lari saat mengejar asisten, atau sekedar menjadi saksi bisu tawa kita saat menjual roti panggang isi cokelat keju… Roti!! Roti!! Setangkup 3 ribu!!
Masih segar diingatan, saat terjadi tawuran antara elektro (plus beberapa jurusan lain) dan geologi tepat di samping laboratorium fisika. Di samping laboratorium fisika, yang di dalamnya ada kita satu angkatan.

Saat itu mendung. Saat itu ujian WSBB. Saat itu kita perpaduan antara penasaran dan ketakutan. Soal-soal menunggu untuk diselesaikan dan di luar sana batu-batu sedang melayang dan bisa memecahkan kaca lab fisika dan melukai kepala gundul teman-teman lelaki kita.

Sungguh. Berada teramat sangat dekat dengan tempat kejadian memang perpaduan antara asyik, seru, cool (?), sekaligus menakutkan dan mendebarkan hati.

Tok…tok…tok…!!!!
Tok…tok…tok…!!!!

Pintu diketuk agak keras. Para dosen dan pegawai di lab fisika –sebagai pengawas ujian- menjadi khawatir. Kami juga ikut tegang.

DUG!!! DUG!!! DUG!!!!

DUG!!! DUG!!! DUG!!!!

DUG!!! DUG!!! DUG!!!!

Bismillahirrahmanirrahiiim… aku mulai pasrah

Laa Ilaahaa Ilallah….Wa…

“INI SENIOR ELEKTRO PAK! TOLONG BUKA PINTUNYA!!!”

Kami saling melempar pandang. Dosen pengawas dan pegawai juga saling melempar pandangan. Buka pintunya atau tidak?

“Pak!!! Tolong buka pintunya!!!” Nadanya melunak tapi tetap tegas.

Dan suasana menjadi lebih mencekam. Masih tampak di jendela sebelah barat seorang senior dengan rambut sepinggang berlari sambil mengacung-acungkan kayu.

“Pak!!!”

“Tolong! Yang di dalam itu adik kami!!!”

…dan suara hatiku menjerit, “Kakak!!! Kakak senior!!!”

Dalam benakku aku merencanakan jika dalam waktu 10 detik si bapak pegawai tidak membuka pintu, maka aku sendiri yang akan membuka pintu (cieh…) bagi kakak-kakakku itu. Kakakku! Dan mereka sudah bilang, “adik kami” sementara kami belum bina akrab dan masih berbaju hitam putih dengan aksen jas almamater merah menyala.

Tapi itu tidak perlu karena ternyata di bapak pegawai sudah membuka pintu.

Kemudian tiga orang senior (atau empat? Eh, berapa orang diy? Hehehe) masuk ke dalam lab fisika dan berbicara dengan pegawai dan dosen di ruangan itu. Intinya, kakak-kakak senior akan mengawal kami kembali ke elektro dengan aman. T_T

Tidak lama kemudian kami –di dalam- lab menyusun barisan rapi dan bersiap jalan jika sudah ada aba-aba dari senior.

“Jalan dek!” komando dari depan.

Kami berjalan dalam formasi barisan. Tetap tunduk seperti biasa karena… karena di kanan dan di kiri ada kakak-kakak senior lelaki yang berjejer. Kakak-kakak berjejer di sepanjang perjalanan kami dari lab fisika ke elektro! Mereka berjejer!!! Addeh, lebay kah? Tapi memang seperti itu, kok. Tapi tidak seperti pagar betis juga. Tidak serapat itu. yah, kalau dikira-kirakan tiap 10 meter pasti ada senior.

“Jalannya yang hati-hati dek. Jangan takut! Tidak apa-apa. Sudah aman kok.” kata seorang senior saat
kakiku hampir tersandung di tangga.

Mereka bilang jangan takut. Dan aku lalu tidak jadi takut. Karena yakin ada kakak-kakak yang menjaga. Mereka menangkan kami –bahkan ketika belum resmi jadi adik- padahal suasana di sana masih mecekam.

Di lantai satu masih ada beberapa mahasiswa senior yang berlari-lari dan berteriak-teriak. Betapa
mereka adalah kakak-kakak yang baik. Kakak yang baik.

Mereka tidak hanya melindungi fisik kami tapi juga jiwa kami.

***

“Mungkin berlebihan tapi saya benar-benar terharu waktu maba dulu. Kalian teman-teman elektro betul-betul dijaga sama seniornya.”seorang teman jurusan lain berkomentar padaku malam itu. ketika kami berada di prosesi sosialisasi lembaga tingkat fakultas sebagai trainer.

Aku lalu tersenyum dan kembali mengenang momen itu. Betul. Saya juga terharu.

***

Sudahkah kita siap menjadi seperti senior-senior kita dahulu, teman-temanku? Yang menjaga adiknya dengan sangat baik. Seperti yang telah kutulis, tidak hanya sekedar menjaga fisik tapi juga jiwa mereka. Membuat mereka dewasa. Membuat mereka kuat. Membuat mereka cerdas lahir batin. Membuat mereka santun. Membuat mereka peka dengan keadaan sekitar. Membuat mereka kompak dan saling menyayangi, setia kawan, rela berkorban.

Atau sudahkah kita menjadi adik-adik seperti yang kakak-kakak kita harapkan dulu? Sehingga adik-adik kita nanti tidak hanya sekedar mendapat teori dari kita tapi juga contoh yang nyata?

Semoga saja kita sudah siap.

Ah, salah. Kita harus siap. Karena mereka, adik-adik kita, sudah tiba.

111209

Resep untuk siap mengahadapi adik baru yang paling simple : Putar Kunci-1=sama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s