cerita pendek · Setangkup Roti Cokelat

~Hachi~

Aslm. Bisa bicara empat mata?

Penting. Saya tunggu di jasbog.

jam 2 siang. mudah2an sisi bisa.

Sender: noname +621*********

Received: 09:16:22 today

Sebuah pesan singkat masuk di telepon selularku. Tanpa angin, tanpa hujan. Tanpa mimpi buruk dan dia tiba-tiba mengirim pesan sok-sok penting. Siapa kamu sampai aku harus datang?

Siapa kamu? Pertanyaan bagus. Siapa dia? Dia adalah dia. Tak baik sok dan berpura-pura dia hanya teranggap sebelah mata. Tidak. Dia pernah berarti. Tapi sekarang tidak lagi.

Dan dia meminta untuk bertemu. Haruskah?

***

“Assalamu’alaykum.”sapaku.

Dia yang sedang mengotak-atik laptopnya sedikit terkejut. Lebih terkejut lagi karena aku tidak sendirian. Ia menatap temanku itu seribu makna.

“Oh, ini tulip, temanku.”aku sadar dan segera memperkenalkan temanku itu.

Ia mengangguk. “Maaf, Tulip. Bolehkah aku berbicara dengan Sisi saja?”tanyanya. Aku mendelik.

“Tidak.”sahutku tegas. “Tulip akan bersamaku dan mendengar pembicaraan kita. Kalau kau tidak mau, aku bisa pergi sekarang.”sahutku sedikit mengancam. Untuk bersama dia berdua saja? Ya ampun… Untung karena Tulip mengangguk menegaskan ucapanku.

Kami bertiga duduk. Dia di hadapanku dan Tulip di sebelah kiriku.

“Ada apa?”tanyaku tanpa basa-basi.

“Terlalu cepat. Bagaimana kalau kita memesan minuman dulu.”katanya.

“Tidak. Aku buru-buru.”

Ia tampak kecewa tapi segera menormalkan kembali air wajahnya. Datar.

Ia menghela napas berkali-kali. Aku menjadi tidak sabar dan mengetuk-ngetukkan meja.

“Baiklah. Akan kukatakan.”

Aku mengangguk.

“Sebelum aku berangkat dua tahun yang lalu, aku adalah aku. Maksudku aku itu seperti yang kau tahu. Seseorang yang penuh prinsip. Seseorang yang selalu berusaha untuk menjadi “ikhwan” yang sesungguhnya.”ia kembali menghela napas.

Aku menaikkan sebelah alis tapi tetap membungkam bibirku yang sudah nyaris menyerocos.

“Aku juga tidak tahu. Entah karena gaya hidup di sana jauh berbeda dengan di sini. Entah juga apakah karena aku kesepian. Akupun tidak tahu. Tahu-tahu aku sudah berpacaran dengan teman kuliahku. Teman perempuanku.”dia menatapku. Aku membalas tatapannya. Dan lalu menunduk.

“Akupun tidak mengerti, kenapa bahkan sosokmu pun seperti menghilang dari kepalaku.”ia mendesah. Aku memasang wajah datar. Pura-pura gila. Aku?

“Aku lalu menghabiskan waktuku seperti biasa. Dengan dia bersamaku.”

Hey, mengapa aku merasa seperti ada yang teriris?

“Ah, aku terlalu banyak berdosa. Sedikit banyak gaya hidupku berubah.”ia berkata dengan lirih.

Ia terdiam. Aku pun diam, masih mengikuti alur cerita yang dia buat.

“dan…tahu-tahu…”ia kembali menghela napas.

Aku penasaran. Aihh…ayo cepat katakan….

“tahu-tahu…dia pregnant…”ia makin menunduk.

Tunggu. Pregnant? Otakku segera mencari arti dari pregnant. Searching…. Find. APA?????

“Hamil??? Dia hamil???”aku sedikit menjerit tertahan.

“Ss-siapa?”aku sedikit terbata.

Ia tersenyum frustasi dan kembali menatap mataku. Aku melihat genangan air di matanya. Boys don’t cry!

“Masih bertanya juga?”katanya nyaris berbisik. Aku menelan ludah. Dadaku tiba-tiba sesak. Entah karena marah. Entah karena ikut sedih melihat air matanya yang nyaris tumpah. Dan tiba-tiba aku ikut-ikutan mengehela napas.

“Kapan kalian akan menikah? Memangnya sudah berapa bulan?”ia terperanjat dengan pertanyaanku.

Aku menatapnya. Matanya menerawang. Rupa-rupanya ia cukup pandai mengendalikan emosi. Air matanya sudah menguap.

“Kau tahu tujuanku dulu pergi dari kampung halaman untuk apa?”ia bertanya.

Aku menaikkan sebelah alis. Cukup untuk memberi tahu bahwa aku tidak tahu.

“Orientasiku adalah kamu.”

Adrenalinku mengalir deras. Dadaku bergemuruh. Sebuah pernyataan yang pernah aku tunggu-tunggu. Aku tunggu dari dulu. Sejak jaman purba.

“Cita-citaku adalah hidup bersamamu. Karena itu aku pergi. Aku butuh pergi untuk mempersiapkan segalanya. Segalanya buat kita dan masa depan kita.”ia tiba-tiba tersenyum getir.

Ah, pikiranku masih di sini tapi perasaanku telah ada di masa lalu. Aku sepertinya mulai berkaca-kaca. Delapan tahun yang lalu.

“Tapi seperti yang sudah kukatakan. Aku tak tahu apa yang mengubah diriku.”

Lagi-lagi aku menelan ludah dan lalu menahan napas. Karena setiap tarikan napas tiba-tiba terasa menyayat-nyayat.

Aku merasa ia menatapku. Tapi aku tak sanggup. Aku hanya menatap gambar apel tergigit berwarna putih. Laptopnya.

Ah, aku lebih suka menata hati. Meredam aneka gemuruh aneh di dalamnya. Perasaan yang campur aduk. Pertama senang. Akhirnya ia mengatakan kalimat yang pernah kutunggu dulu. Kaget, ia ternyata menghamili pacarnya. Na’udzubillah. Ketiga, aku marah. Amarah yang terpendam sejak melihat status “in relationship”nya di facebook tiga tahun yang lalu –padahal di sini aku sudah bertahun-tahun mati-matian menjaga hati- ditambah berita kehamilan itu ditambah lagi pernyataan yang ia baru katakan sakarang di situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Tidak sesuai. Tidak etis. Ah, entahlah. Perasaanku benar-benar tidak enak. Ingin aku tertawa keras-keras tapi aku tahu satu tarikan napas saja air mataku akan tumpah.

“Tidak ada yang perlu kita sembunyikan. Aku juga merasakan perasaanmu. Semenjak dulu. Semenjak kita baru sama-sama tahu bagaimana menyukai seseorang.”aku tahu ia sedang tersenyum getir. Aku makin marah.

“Sisi…”ia memanggilku dengan lembut. Sisi??? Ya, dia memang dari dulu memanggil seperti itu.

“Tiga bulan lagi aku harus menikah dengannya. Ia akan melahirkan bulan depan. Kau tahu kan. Diharamkan perempuan menikah saat masih berbadan dua.”

Aku tidak bereaksi apapun.

“Dan…ahh, aku tahu permintaan ini gila. Benar-benar gila.”ia terdiam. Aku kembali bertanya-tanya.

“Aku…aku…ingin mewujudkan cita-citaku. Tujuan utamaku. Orientasi pertamaku.”ia mencoba menatapku walau kembali menunduk. Aku masih bertanya-tanya dan lalu menatap matanya dalam-dalam.

Ia membalas tatapanku lebih dalam.

“Maukah kau menjadi istriku? Istri pertamaku?”

My room, 15 Agustus 2010

serius, benar-benar imajinasi… ^^

4 thoughts on “~Hachi~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s