Setangkup Roti Cokelat

[kesan]

Kepada seorang sahabat yang baik hatinya….

…Tidak perlu menjadi superman dan mengangat gunung dengan sebelah tangan. Tak perlu menjadi Harry Potter dan melakukan manuver-manuver keren dengan Firebolt keluaran terbaru. Tak perlu…

***

Aku ingat siang itu. Saat semua orang sibuk mengurus diri masing-masing. Saat semua orang seperti tuli dan tidak mendengar permintaan tolong siapapun. Saat semua colokan penuh untuk laptop-laptop –untuk ujian- dan ada tempat lagi untuk colokan laptopku –yang bocor baterainya-.

Sebenarnya aku punya colokan bermata tiga yang ketiga-tiganya diisi oleh charger-ku, dan charger dua temanku yang lainnya –seorang perempuan dan seorang lelaki-. Tapi karena colokan utama sudah penuh, maka colokan tiga ku itu pun tak berdaya. Aku panik. Tidak tahu harus bagaimana. Pada saat seperti ini sepertinya aku memang sulit berpikir. Dan di saat itu dia datang, mengambil colokan tigaku itu, mencabut charger laptopnya dan mengutak-atik si colokan agar charger laptopku bisa terpasang. And it work! Berhasil! Selamat ujian, Mirna!

***

Saat itu sudah larut malam. Pukul setengah dua belas malam dan kami baru saja selesai belajar untuk ujian besok pagi.

Jalan sudah sepi. Suasana lebih mencekam karena berapa lampu jalanan mati. Hanya beberapa yang cahayanya sanggup merayap diam dalam dingin.

Aku pulang bersama seorang teman perempuan. Naik motor. Dengan arah tujuan berbeda dengan yang lainnya. Dan dia ternyata mengawal motor kami dari belakang tanpa kami minta. Mengawal sampai ke rumahku, dan setengah perjalanan pulang teman perempuanku. Mengawal agar kami aman. Mengawal agar tidak terjadi apa-apa.

***

Hura-hura dadakan malam itu tak direncanakan. Tapi tetap saja yang namanya kumpul-kumpul dengan teman-teman selalu berlangsung menyenangkan. Aseek-e!

Sudah pukul setengah sebelas malam. Semua sudah harus pulang. Hura-hura harus diakhiri. Seorang teman perempuan pulang beriringan dengan dua teman kami –laki-laki-. Dari depan > teman lelaki > teman perempuan > teman lelaki.

“Ban motormu kempes!”sahut teman lelaki yang motornya paling depan.

Si teman perempuan ragu karena teman lelaki kami itu berada di depan.

Bisanya itu dia lihat banku dari depan. Dia kan hanya menoleh ke belakang!´ begitu kata teman perempuanku dalam hati. Lagipula, di belakang teman perempuanku itu ada motor teman lelaki kami yang satu. Kalo banku bocor, si lelaki yang ada di belakang motorku pasti sudah menegur. Kembali teman perempuanku membatin.

Namun makin lama, motor teman perempuanku sepertinya berjalan dengan aneh. Akhirnya teman perempuanku berhenti dan meneliti ban motornya. Kempes! Si teman lelaki yang di depan tadi benar. Ban motor teman perempuanku bocor.

Dengan refleks si teman perempuanku ini mendongak ke depan. Dan di situlah teman lelakiku itu, yang berada di depan motor teman perempuanku, yang memperingatkan bahwa ban motor teman perempuanku bocor –bukannya diberitahu oleh teman lelaki yang berada di belakang-, berdiri. Ia ternyata ikut memberhentikan motornya.

“Kan, sudah kubilang!”kata teman lelakiku itu. Hey, di mana teman lelakiku yang satunya? Yang tadi ada di belakang dan yang seharusnya memberitahu kalau ban teman perempuanku itu bocor? Entahlah.

“Ayo, jalan pelan-pelan saja. Aku antar kamu ke bengkel terdekat.”kata teman lelakiku itu.

Teman perempuan ku ini tadinya agak kurang yakin karena takut dijahili –karena teman lelakiku ini memang gemar bercanda di sekolah-. Tapi karena sepertinya tak ada pilihan lain, akhirnya mereka berdua pun beriringan dan… menemukan bengkel terdekat!

“Aku temani, ya! Sudah malam. Tidak baik sendirian.”katanya lagi.

***

Beberapa hal kecil. Hal kecil yang banyak orang tak peduli. Hal kecil yang mungkin saat ini kalian tertawai. Tapi aku tidak. Bagiku tidak. Bagiku ini sangat berkesan.

Kami semua memang hanya teman biasa. Dan justru karena “kami hanya teman biasanya“ itu dia memperlihatkan kualitasnya sebagai laki-laki. Tindakan-tindakan sederhana yang luar biasa kepada semua orang tanpa pilih-pilih.

Teruskan kawan!

Semangat! ^^

21 Juni 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s