.::bisikan kalbu::.

Monika Emora yang Cemburu

Monika –nama laptopku-. Ia tampak aneh. Ia cuek padaku. Kalau ditanya jawabannya singkat padat dan jelas. Tidak bertele-tele, tidak lebay seperti biasanya. Tidak ada semangat yang meletup-letup. Ada ke-kalem-an yang justru terasa aneh dan hambar. Dan satu hal, ia tak pernah tersenyum lagi padaku.

Monika Emora. Aku berani bersumpah dia ada masalah. Sudah empat hari semenjak kepulanganku. Tadinya kukira tak ada apa-apa. Tapi setelah –seperti pada paragraf pertama- kualami beberapa hari ini ditambah lagi dia suka pergi eh, turn off tiba-tiba tanpa permisi, beberapa data tidak mau ter-save di memorinya, chargernya tidak mau menyala–seperti mogok makan saja- dan dia tidak mau kuajak kemana-mana.

Ada apa denganmu?

***

Aku masih sedih sekaligus bingung tapi tak dapat berbuat apa-apa. Pekerjaanku berdua dengannya masih banyak. Bagaimana mungkin aku menyelesaikan itu bersamanya jika bersikap baik pun ia tidak mau?

Aku pun termenung. Pandanganku menerawang sampai akhirnya mataku jatuh pada koper cokelat. Koper cokelatku yang tiga pekan terakhir menemaniku selama di luar negeri.

Tunggu! Koper? Di luar negeri??? Selama tiga pekan tanpa henti???

***

Memoriku flash back tanpa bisa kucegah. Seperti sebuah film, banyak adegan yang terputar ulang. Seketika aku paham. Aku mengerti. Diamnya, marahnya, kesalnya, aneka perasaan tak jelasnya bukan tanpa alasan. Benar-benar berasalan. Cuma aku saja yang selama ini bodoh. Aku yang tidak peka. Aku menganggap semuanya baik-baik saja. Duh! >.<

***

Koperku itu baru kubeli. Baru ku-akrabi. Baru kukenal baik-baik. Dan aku mengajaknya menemaniku selama aku studi banding di luar negeri.

Lalu di mana letak permasalahannya?

Monika Emora. Aku tak mengajaknya. Mengajak ia yang telah lebih lama menemaniku daripada sekedar koperku itu. Daripada sekedar koper yang baru kukenal dengan baik.

Monika sepertinya merasa aku lebih nyaman bersama koper cokelatku ketimbang bersamanya. Monika pikir aku lebih menyukai menghabiskan waktu bersama si koper cokelat.

***

Aku mendesah. Ya ampun, bukannya aku sudah bilang, aku tak mengajak Monika karena takut dia terluka di perjalanan. Aku takut dia lecet atau terjatuh. Aku takut aku teledor dan seseorang mencurinya. Aku takut kehilangan dia. (secara mama papa juga bakalan murka kalau itu sampai terjadi, ho!)

Atau aku memang sengaja melakukannya?

Meninggalkan Monika karena aku lebih tertarik bersama-sama koper cokelat yang baru kukenal itu?

Entahlah, yang jelas, Monika cemburu.

Monika Emora cemburu.

-/\-

*Maap, Mon. Jangan rusak dong… duitku dah abis buat biaya hidup di sana… hkz…*

Kalau saja kau berhenti sok tidak peduli. Kalau saja kau bisa punya inisiatif. Jangan anggap permintaan ini untukku tapi justru untuk dirimu sendiri…

Makassar, 27 Juli 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s