Setangkup Roti Cokelat

Pelangi buat the BEST Steering Committee Ever

…kawal adik-adikmu, jaga mereka baik-baik dan penuh sayang. Kalau mau eksekusi, pisahkan yang pita merah… T_T

***

Di senja itu mentari mulai menguap. Hawa tak lagi panas tapi tak juga basah dan kendaraan sepanjang Urip Sumoharjo tetap saja macet.

Di sebuah ruangan biasa. Ruangan yang biasa. Biasa kami pakai untuk kuliah. Biasa juga untuk rapat. Biasa juga untuk eksekusi  paket komplit hemat : kengkreng+push up+sit up. Ruangan serba pakai.

Di dalamnya beberapa orang berparas muda terduduk di barisan-barisan depan. Di depan mereka wajah-wajah yang sedikit lebih tua tengah berjejer. Mereka berhadap-hadapan.

Pertemuan ini adalah terakhir.

Adalah terakhir.

Karena mulai detik itu –setelah pertemuan itu berakhir-, mereka yang duduk di kursi akan berjejer berdiri di depan. Karena mereka yang diam terpaku itu sebentar lagi akan berteriak-berteriak.
Dan tongkat estafet telah berpindah tangan…


***

Aku teringat. Dua tahun yang lalu di ruang 401 A. Ketua angkatanku dipilih setelah melalui proses yang cukup menyusahkan bagi maba yang belum biasa dengan rapat. Datang sore-sore. Duduk bodo-bodo. Lalu ketika pukul 06.00, TENG!!!, kami dipulangkan tanpa hasil dengan alasan = sedikit sekali jko yang datang, Dek!

Arrghhhh!!! Jauh rumahku, Kakak!!! Pulang sih jam enam. Tapi sampai di rumah sudah hampir jam tujuh!!! Gerutuku saat itu.

***

“Kak, nda tau mka mau begimana lagi! Acara sudah H-7 tapi dananya setengah saja belum cukup!!!” suara cemas menambah gerahnya sebuah senja di saat azan maghrib berkumandang.

“Bisa! Kalian pasti bisa! Ayok, kita maghrib dulu!”

***

“POSISIKO!!!! SATU!…”

“teknik”

“SUARAMU! SATU…!!!”

“TEKNIK!!!”

“DUA!”

“TEKNIK!!!”

“DUA”

“TEKNIK!!!”

“DUA”

“TEKNIK!!!”

***

“Cieh, mantapnya caramu presentasi dek. Keren rompimu. Besok kalo presentasi lagi, pake jas ko dek nah!” kata Kanda SC.

Saat itu mata-mata kami tak bercahaya lagi. Lelah pada kesibukan. Marah pada rapor akademik yang miskin huruf A-nya dan juga marah pada total dana yang begitu-begitu saja. cemas, takut, dan kesal karena SC kesannya memaksa sekali.

Tapi saat itu. Saat SC berkata seperti itu dengan begitu lucunya, ada letupan semangat yang membangkitkan semangat tiba-tiba.

***

“Kenapako susah sekali diatur, Dek?”

***

“Semangatki, Dek. Kalian nda tau bagaimana senangnya kami, bahagianya kami, girangnya kami kalau lihat kaliat semangat seperti itu!!! KOFTTE, Dek!!!”

***

“Kami tahu kalian bisa! Kami tahu itu!”

“Kalau kami kesannya memaksa, itu karena kami tahu kalian sebenarnya bisa, Dek!”

***

“Sebentar kalian operasi malam nah!”kata SC.

“Operasi malam? Apa itu, Kak?”

“Membantu dinas tata kota bersihkan Makassar dari spanduk-spanduk yang sudah habis izinnya!” jelas SC
sambil nyengir.

***

“POSISI! SATU!”

“TEKNIK!!!”

“CEWEKNYA NDA USAH IKUT!!!!”

..aduh…maafkanka teman-teman co… maafkan….

“PUSH UP! SATU!”

“TEKNIK!!!”

“CEWEKNYA KENAPA IKUT????”

…aduh…maaf…

***

“PLAKK!!!!”

“Beraniko bicara begitu sama SC-mu???!!!!!!”

***

“Kalian kenapa begini? SC jahat ya sama kalian? SC nda sayang ya sama kalian? Jawabki dek!”

***

“Bicaraki, Dek! Jangan diam begitu! Memangnya pernah kalian bicara lalu kami tentang?
“Pernah, Kak! Buktinya temanku ditappek!!!”

***

“Kak, betulan Kakak-Kakak kali nol angkatanku? Betulan itu yang Kita bilang, Kak?”ketua angkatanku bertanya.

Banyak linangan air mata. Tak ada senyum. Hanya ada kepala-kepala yang tertunduk layu. Sebagian coba menatang wajah SC. Mencari jawaban. Mencari alasan. Mencari kejelasan. Dan yang ditatap ikut menatap.

Sebagian menatap garang. Sebagian menatap cemas. Dan sebagian ikut tertunduk layu.

***

“Bagaimana balighomu?”tanya SC.

“Bentuk satelit, Kanda!”

“Hm…satelit? Artinya melayang diy?”kata SC sambil senyum jahil.

“Eh..?”si OC agak melongo. Lugu. Bodoh.

“Satelit melayang, toh?”senyum SC tambah jahil.

“Eh? Oh… oh..iya..iya…Kak. Melayang…”sahut si OC dengan muka bodohnya.

OC-OC lain yang tengah tertunduk kuyu jadi tertawa dan tegak kepalanya tiba-tiba. Tapi sungguh, temanku yang sedang presentasi itu ekspresinya lucu sekali.

“Oke. Kalo satelit, biasanya ada komet-kometnya itu melayang-melayang juga di dekatnya.”ini SC lagi yang punya suara.

“Oh…komet? Iya..iya…komet…”sahut si OC benar-benar lugu. Maka tidak heran. Tidak di SC, tidak di OC, semuanya terbahak.

“Bintang, iya?”

“oh, iya Kak. Bintang…bintang…!”

..ck..ck..ck….

Dasar buntu! Mungkin karena sindrom BAE di depan mata.😀

***

Aku mencatat percakapan waktu evaluasi Seminar IT e-Speech.

“Sebutkan kekuranganmu.”SC bertanya dengan nada datar.

“OC telat ngumpul.”

“Pemateri telat karena jalan-jalan ke danau…”

“Miskomunikasi antara MC dan koordinator acara…”

“Mati lampu…”

“Oke..oke.. sudah.”kata SC.

“KO KIRA BAGUSMI ACARAMU????” hardik seorang SC. Aku melirik ke kiri dan ke kanan. Ke arah teman-temanku. Mereka tertunduk.

Tunggu sebentar. Ngomong-ngomong ini cerita selalu bilang OC nunduk yah? Kesannya SC mengerikan sekali kan? Hehehe.
Padahal sebenarnya tidak juga. Adegan bahagianya juga banyak. Tapi kena sensor. #eh

Lanjut ke IT e-Speech

“On time ko, dek!”kami makin tunduk.

“We, janganko tunduk! Angkat mukamu semua!”

Hanya ada wajah-wajah lelah yang terangkat. Para OC tetap membisu dan memilih tidak berbuat apa-apa.

Aku pun demikian. Di depan SC menjelaskan kekeliruan demi kekeliruan yang terjadi. Sedih juga melihat wajah kusut teman-teman.

“Kalian sendiri yang kasih rusak acaranya kalian!”

“Kalo satu kali ditegur, langsung perbaiki!”

“Apa masalahmu semua kah?”pertanyaan klasik. Tapi kami terus saja membisu.

“Kalo ceweknya mungkin wajar karena harus membersihkan dulu di rumah.”kata seorang SC lelaki berbadan besar dan kekar. Wuih. Betul-betul. Tadi aku terlambat karena mesti bersih-bersih dulu. Si Kakak memang mengerti cewek!!! ^^

***

“Jadiki teladan, dek. Kalian sebentar lagi sudah punya adik. Jadiki teladan, dek.”pesan SC saat rapat BAE.

Ah, entahlah. Ketika teman-temanku pusing cari dana, kenapa aku malah berpikir dan bertanya haruskah di lokasi BAE kami menyiapkan sup buah? Sub buah yang hangat? Ckckck.

***

Aku mengelap keringat. Sudah pukul sembilan pagi.

Satu truk. Satu mobil. Satu mobil. Satu becak. Satu mobil. Satu becak. Dua cowok cakep, ups, dua gerobak…

“Maaf, lagi bikin apaki?”sebuah suara menyapaku. Aku tersentak kaget.

“Oh, eh, eh, iya, maaf.”jawabku sambil senyum innocent.

“Lagi survey. Maaf, numpang di teras rumahta’. Tadinya mau izin dulu, tapi rumahta’ sepi sekali.
Kayak nda ada siapa-siapa untuk dimintai izin.”jelasku lagi. Ia manggut-manggut.

“Survey apa?”ia bertanya lagi. Kali ini sudah lebih rileks.

“Ini ada survey punya senior saya di teknik.”

“Heh? Anak Teknik?”ia kali ini yang tersentak. Akupun ikut medelik. Dia anak teknik juga ya?

“iya. Saya Mirna, teknik Elektro. Anak teknik juga ya?”

“Hahaha. Iya. Saya –nama disamarkan-, teknik –sensor-. Angkatan berapa?”

“2007”jawabku.

“Heh? Saya juga 2007!”dia menjawab sambil tertawa lebar. Aku juga jadi ikut nyengir lebar. Untung dia anak teknik juga.

“Sudah dari tadi? Pasti capek. Mau saya ambilkan minum?”tawarnya. Duh, baik sekali.

“Oh, tidak usah. Terima kasih. saya sudah titip beli minum di teman.”tolakku halus.

“Kalo begitu saya pergi dulu, ya.”ia pamit.

“Mau ke kampus?”

“Tidak. Ke rumah teman. Mari, assalamu’alaykum.”

“Wa’alaykumsalam. Hati-hati.”kataku. ia mengangguk dan pergi dengan motornya.

Aih, pengalaman survey yang komplit. Aku akhirnya merasa cukup senang walau tadi misuh-misuh –kalau tidak mau dibilang ngamuk-ngamuk karena kami –para surveyor- enak-enakan menghitung kendaraan apa saja yang lewat, mengukur jalan, menghitung kecepatan mobil di paotere sementara teman kami sedang susah-susah mengerjakan soal Quiz jaringan komputer di kampus. Hey, mereka mengirim pesan bahwa ada Quiz saat waktu Quiznya tinggal beberapa saat lagi. Apaan sih? Dan khusus diriku, tak satupun temanku yang memberitahu kalau saat itu ada Quiz. Huh!!! Bagus!!! Plok..plok..plok..

Sudahlah. Saat itu –karena sudah capek ngamuk- aku akhirnya memilih tidak peduli. Biarlah mereka yang quiz di sana dapat nilai bagus. Biarlah diri kami yang malang ini di sini tidak mendapat nilai. Semoga Allah Swt. memberkahi usaha cari dana kami ini. Lah wong ini untuk BAE 09 kok. Goodbye Quiz!!! (–“-)

Psst. Lihat sisi baiknya saja. misalnya pulang dari survey kami makan coto dengan bahagia –sederhana jie toh, kebahagiaan kami?- atau pengalaman lucu teman-teman yang harus bersanding dengan para preman pasar. Bayangkan wajah Fiqha Rahua dan Atti yang di sebelahnya ada preman pasar tinggi bertatoo dan brewokan. Hahahaha. Atau bertemu anak teknik –sensor-. ^^v

Hidup BAE 09!!! Hidup surveyor!!! Hidup gerobak!!!

***

Bagitulah cerita-cerita kami. Kisah hidup kami. Momen-momen berharga punya kami. Ya. Hanya punya kami.
Perjuangan seperti ini ternyata tidak sekedar menyelesaikan proker semata. Tidak karena disuruh SC semata. Tapi karena kami yakin ada seribu makna di balik keringat ini. Ada sejuta kenangan yang menghiasi hidup kami dengan indah. Ada persahabatan yang tak terhitung nilainya. Buat OC, buat SC.

Dan ketika kami yang harus menyandang tingkatan “SC”. Ah, ada ragu yang mengetuk-ngetuk relung hati. Kami merasa masih senang menjadi OC. Menjadi adik mereka. Menjadi kesayangan mereka.

Tapi toh, waktu terus berjalan. Walau enggan, kami tahu, ada wajah-wajah baru yang mengintip malu-malu di ujung jalan sana. Ada wajah-wajah lugu yang harus kami bentuk. Yang harus kami ajarkan bagaimana cara menikmati hidup.

Dan terima kasih kanda-kanda Steering Committee Volckert 2005.

Kami sayang Kakak-Kakak. ^^

Diselesaikan pada 24 April 2010

13 thoughts on “Pelangi buat the BEST Steering Committee Ever

  1. bertambah 1 lagi blog langganankuu bwad nebeng baca2.. nice post, kaak🙂
    huaah.rinduku.srasa lama skali mkak nda bilang kalimat terakhir dtulisan t..
    ntahlaah..
    males ah curcol dsni.hihi.keep post y kaak🙂

      1. ahaha..baru mo sok misterius d blog t, tnyata kucantumkn emailku..haha.dodol.

        k’mirnaaaaaaaaa…..
        moderator besooook :p :p :p

  2. Terima kasih juga dek krn sdh bisa “mencerna” proses ini dengan sangat baik…
    Tapi ingat, jgn lupa remove sisi2 negatifnya…

    Bicara tentang SC n OC pasti menyangkut pengkaderan @ teknik/elektro,
    klw bisa sandingkan antara kultur dengan norma agama dan sosial…karena yang buat kultur itu pasti orang2 yang beragama…jadi jelasji pijakannya untuk membuat dan merubah kultur kan!!!…hehe…logika sederhananya begitu…

    Regards,
    Syawal

  3. hahahahahaha………………………….. kayaknya gw tau kisah survey2nya…….. hitung mobil, kcepatannya dll…………….

  4. baruka baca ini…*telatku diy…?*
    Habisnya nda temananki di FB dek…
    Terharuku…semoga secuil ilmu dan pengalaman yg kami berikan bisa berguna buat kalian
    Hidup di kampus, seperti episode hidup lainnya, semuanya adalah proses…semoga kita selalu bisa belajar dari setiap prosesnya..^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s