Setangkup Roti Cokelat

Orang itu Gila!

Bukan bermaksud mau ikut-ikutan Suka Tidur bikin cerita dari pete-pete atau sengaja mengikuti trend bikin cerita di atas pete-pete. Tidak. Saya cuma mau cerita. Cerita dari pete-pete.

Pagi tadi saya naik pete-pete –alih-alih dijemput kereta berkuda putih- dan duduk di sudut terdalam. Tempat saya bisa melihat seisi jalanan. Melihat sejuta ekspresi manusia dan kesibukannya. Melihat jalan Gunung Latimojong sambil sesekali mengkhayal bagaimana kalau kerusuhan Thailand pindah dan terjadi tepat di depan sebuah SD Negeri yang jajanannya penuh makanan imitasi dan berpemanis buatan! Hiyy…

Ciiittt!!!

Pete-pete direm mendadak! Huh! Si pak kusir, eh, pak supir! Hati-hati dung. Kan jadi kaget!

“Sun**la!!!”

Heh? Kaget jilid dua. Siapa itu yang berteriak dengan bicara kotor? Dari jendela tampak seorang lelaki tua berkumis dan berjanggut. Ia tampak marah dan menunjuk-nunjuk seseorang sambil berteriak dalam bahasa Makassar. Saya tidak suka ada yang teriak-teriak! Bukan hanya karena hati saya sedang kacau dan sensi saat itu tapi karena memang saya tidak suka. Saya merasa kenyamanan saya terusik. Dan bertembah terusik lah saya ketika ternyata bapak tua itu naik di pete-pete ini. Di pete-pete yang ada saya di dalamnya! Huh!!! >.<

Tapi tidak butuh waktu lama untuk membuat lidah ini kelu. Lelaki tua itu tak bersandal dan kakinya penuh sisa-sisa lumpur, berjaket oranye kotak-kotak. Lelaki tua itu GILA!!! Eh, maaf. Tidak bermaksud sarkas. Baiklah, kita ganti pilihan katanya, lelaki itu tampak punya gangguan jiwa.

Ia duduk di ujung dekat pintu. Bibirnya terus mengoceh. Sebagian penumpang tertawa diam-diam. Saya sedang tidak nafsu tertawa. Tapi saya mendengar apa yang dia katakan.

Di depan kafe Buana Urip Soemoharjo…

“An* su*d*la! Orang lagi bertugas, dia enak-enak minum kopi – baca Koran!!!” umpat lelaki itu ketika melihat kafe Buana dipenuhi lelaki-lelaki usia kerja yang mungkin sedang sarapan sebelum berangkat ke kantor. Saya hanya mengulum senyum. Lebih mungkin lagi lelaki itu benar.

Melintasi tukang becak yang sedang main kartu…

“Oiii!!! Cariko uang!!! Janganko main judi!!!”si lelaki kali ini berteriak lewat jendela. Oh iya, saya belum cerita? Lelaki ini pindah duduk di samping pak supir.

Di depan kantor DPRD Prop. Sulawesi Selatan

“Anne mahasiswa ka tolo-tolo! Buat apa kau bakar-bakar ban kalo demo? Macet jalanan! Habis bensinnya mobil! Kasian penumpang kepanasan! Tolo memantong!!! Ndak ada gunanya! Maunya kau mahasiswa, masukko di dalam ine gedung! Terobos ke dalam! Bakar gedungnya. Bakat tommi orangnya juga. Bakarki koruptor ka… lebih bagus itu, tolo!” lelaki itu kembali mengumpat. Kali ini lengannya keluar lewat jendela dan menunjuk gedung para wakil rakyat itu beradem-adem ria dengan AC yang listriknya kita bayar tiap bulan.

Di depan kampus UMI…

“Bagus tawwa ini kampus. Banyak jurusan di dalamnya! Banyak tong nanti pasti sarjana. Orang pintar ka tawwa. Tapi banyak tong yang jadi pengangguran. Anjo cewek-cewekka. Banyak warna mi roknya. Pergi kuliah tapi nanti di dapur tonjii. Suaminya jie na harapkan! Nanti suaminya ketemu cewek di luar, pegawai, na banyaki uangnya, pergi suamimu sana anjo cewekka!”

Hey! Cuma perasaan atau pikiran saya sedang kacau? Kenapa lelaki itu seperti tidak ngoceh sembarangan? Kenapa kata-katanya mengandung kebenaran?

Saya tidak tahu apa yang dilakukan para pegawai-pegawai, orang kantoran, dan entahlah di warung-warung kopi dan kafe pagi-pagi. Mungkin saja mereka memang sedang sarapan sebelum berangkat ke kantor. Atau sedang menunggu kolega atau rekan bisnis. Mudah-mudahan mereka tidak ngobrol ngalor ngidul dan lupa ke kantor. Mudah-mudahan mereka tidak facebookan. Mudah-mudahan mereka tidak sedang transaksi narkoba atau mengorder wanita panggilan. Mudah-mudahan.

Kemudian para koruptor. Ah, bukan hak kita membakar mereka. Api dunia terlalu sejuk untuk mereka. Api nerakalah satu-satunya hukuman paling pantas untuk mereka. Bukan hanya pra koruptor. Para pejabat yang jahat. Yang ketawa-ketawa liat kerusuhan Priok padahal merekalah yang punya kepentingan. Para pengusaha jahat yang menggunduli hutan dan membuat bajir jadi tradisi. Para wakil rakyat yang tidak merakyat bahkan jauh dari rakyat.

Kemudian para mahasiswa. Yang mengejar sarjana. Sarjana yang hasil ujiannya banyak dicemari nyontek. Atau nilai yang dibeli 300ribu. Para mahasiswa yang dosennya lebih sayang proyek. Yang dosennya mengajar asal-asal. Ilmu asal-asal. Input asal-asal. Output rusak-rusak. Lulus dipaksa, terpaksa. Tak ada ilmu. Tidak kuat bersaing dengan the real sarjanawan / sarjanawati. Jadilah mereka pengangguran. Ckckckck.

Aih. Mungkin kita menganggap diri kita waras dan pintar. Mungkin teman-teman yang melihat lelaki tua itu akan tertawa melihat kegilaannya. Padahal mungkin kitalah yang gila. Kita yang patut ditertawakan oleh mereka. Oleh mereka orang-orang gila.

My room, 19 05 2010

Crazy Rhythm

4 thoughts on “Orang itu Gila!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s