.::bisikan kalbu::.

Cakap-cakap

Percakapan Satu

Xiau Yen Cha : Lihat, itu berarti dia sedang marah. Pergilah padanya dan bujuk dia.
Erl Khang : Buat apa? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Aku tidak perlu membujuknya!

Sebuah percakapan pendek yang –mungkin- tak berarti buat para tokohnya, tapi berarti buat seseorang yang akhirnya merasa miris dan perih mendengarnya.

Percakapan Dua
Mulan : Aku tahu aku salah. Tapi aku datang karena mengkhawatirkanmu.

Mulan mengatakannya dengan air mata yang nyaris menganak sungai. Namun Wentai hanya terdiam sambil memunggungi Mulan. Diangatnya tinggi-tinggi wajahnya sambil memasang ekspresi dingin dan datar. Tatapannya tajam, angkuh, dan lurus ke depan.

Mulan : Jika kau ada di dalam posisiku. Apakah kau akan datang?

Mulan bertanya sambil menahan napas.

Wentai : Tidak. Aku tidak akan datang.

Mulan pun jatuh. Jatuh terduduk. Jatuh air matanya. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Wentai sekaligus merasa bodoh. Merasa bodoh karena mengkhawatirkan seseorang yang tidak mengkhawatirkannya.

Tapi siapa yang tahu? Tubuh kekar yang memunggunginya, yang tampak angkuh dan tegar, yang tampak tidak berperasaan, yang identik dengan logikanya yang sempurna, justru sedang menitikkan air mata?

Wentai lalu melangkah pergi.

Mulan menatap langkah Wentai yang menjauh, berharap Wentai menoleh sedikit saja.

Wentai terus berjalan dengan tegap. Tidak berbalik karena ia tahu itu adalah simbol pengharapan bagi Mulan. Dalam perang, tenggelam dalam perasaan akan mematikan semangat juang dan strategi. Karena itu setiap bentuk perasaan layak untuk dipadamkan.

***

Pertanyaannya. Apakah Erl Khang dan Wentai punya maksud yang sama?

Dua adegan berbeda dari zaman yang berbeda. Para tokohnya berbeda. Latar tempat, waktu, dan situasi pun berbeda. Namun entah kenapa, melihat percakapan pertama yang membuat perih hati, aku ingin sekali menyamakan maksud Erl Khang dan Wentai.

Maksudku, ada cinta di balik segala keangkuhan, sikap tidak peduli. Ya. Aku ingin. Ingin sekali. Tapi di saat yang sama aku tidak tahu. Tidak tahu jawabannya. Tidak tahu bagaimana cara mencari tahu. Tidak tahu bagaimana cara mengintip ke dalam hatinya. Duh!

Aih, sudahlah. Sudah. Mari mengakhirinya.

Intinya adalah. Sekali lagi saya lebay. Saya lebay. SAYA LEBAY! Berlebihan. Berlebihan untuk urusan seperti ini. X-(

Dan dia selalu benar. Benar dengan logikanya. Benar dengan “sikap”nya.

Iyokah? Selamat nah!!!

Makassar, 12 April 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s