.::bisikan kalbu::.

sebuah catatan kacau

Sekotak isi tiga ayam. Tapi pembahasan lalu sampai hingga ke luar negeri, terus melewati batasan ruang dan waktu, menerobos lapisan ozon, menyenggol satelit HEO, melewati langit ke tujuh dan entah ia berbelok ke mana, entah ia sedang maju atau mundur, entahlah, yang jelas aku tiba-tiba sadar hati jiwa dan pikiranku tertohok tiba-tiba. tidak ada darah yang tertumpah. Tapi ada luapan kecewa. Kecewa amat berat. Mereka kecewa. Dan aku cuma bisa menggeleng dan berkata “maaf”. Hanya maaf…

Maaf. Mudah sekali kuucapkan tapi kadang justru gampang terlalaikan. Bukan lupa, mungkin sudah tak peduli lagi aku pada tatap-tatap penuh harap,  tatap-tatap pengandalan, tatap-tatap meminta. Ah, aku kehilangan sensitivitasku. Tidak, bukan hanya itu. Aku kehilangan diriku.

Mungkin bukan hilang. Tapi aku mematikannya.

Tidak. Bukan mematikan. Aku mengosongkannya.

Tidak. Orang-orang akan membelaku jika hanya kukatakan aku “mengosongkannya”.

Karena sepertinya aku bukan sekedar mengosongkan tapi telah menggadaikannya. Menggadaikan hati. Menggadaikan seluruh isinya dengan harapan ketika hati telah kosong maka ia akan segera diisi kembali oleh… Oleh siapa? Olehnya? Ya. Olehnya.

Kosong. Kosong dan siap diisi. Oleh siapa? Bukan. Bukan masalah itu. Bukan masalah siapa yang mengisinya tapi akan diisi dengan apa. Ya. Akan diisi dengan apa? Harus dia isi dengan apa?

Justru diamnya adalah komitmen. Justru keabsurdannya adalah sebuah komitmen. Justru tidak berkomitmennya dia adalah sebuah komitmen. Komitmen yang benar untuk saat ini. Komitmen yang jujur. Komitmen yang berani. Komitmen yang jantan. Komitmen yang bijaksana. Komitmen yang sempurna untuk saat ini.

Jelas. Tidak ada sesuatu yang bisa dipastikan bahkan untuk sekedar dijanjikan. Tidak ada sesuatu yang bisa dijadikan pondasi untuk berharap atau mungkin menunggu.

Tidak ada.

Tidak ada karena tidak ada yang tahu tentang hari esok.

Tidak ada yang tahu tentang hari esok.

Sekali lagi dia benar.

Dan sekali lagi saya salah dan terlalu berperasaan.

Yang ada hanyalah candu. Mungkin sudah kecanduan. Dan sebentar lagi akan sakau. Siapa suruh pakai narkotik?

Jadi jangan pernah menuntut. Menuntut pada sesuatu yang pondasinya masih abu-abu.

Karena harapan yang abu-abu itu sangat berbahaya. Sangat berbahaya.

Tidak ada yang bisa dipastikan bukan karena tidak mau memastikan. Bukan karena tidak berani memastikan.

Tapi karena memastikan sesuatu yang tidak pasti hanya akan membuat harapan-harapan rapuh berkembang. Harapan-harapan yang mungkin kusangka akan membuat hati tenang tapi sebenarnya justru sedang melumpuhkan hati. Melumpuhkan sel demi sel. Setitik demi setitik. Karena ketika abu-abu telah berubah pasti menjadi hitam atau putih maka kemungkinan terbaik atau terburuklah yang pasti terjadi. Jika putih, maka semua akan berada pada zona aman. Jika hitam? Silakan menghancurkan diri. Silakan.

Karena itu jangan pernah menuntut matahari besok terbit pukul tujuh pagi hanya karena kau begadang dan yakin akan bangun terlambat. Tidak. Tidak boleh begitu. Justru tidak bijak. Justru tidak bijak. Justru tidak bijak.

Tapi coba saja menikmati sore yang berawan. Sambil mungkin bermain tebak-tebakan. Apakah awan di arah jam sepuluh berbentuk pudel? Atau awan yang berada di arah jam empat berbentuk naga? Atau ada dua ekor lumba-lumba yang kelihatan di arah jam setengah tiga?

Atau mungkin berbagi cerita tentang gambaran diri di masa depan. Kau yang menguasai dunia persilatan. Dan biarkan aku bermimpi menunggumu di rumah dengan memasak kangkung tumis dan sambel goreng teri yang membuatmu terus ingin pulang ke rumah. Terlalu kecilkah cita-citaku itu?

Ah, kenapa aku membuka masalah baru? Maaf. Terlalu banyak hal yang berkecamuk. Karena itulah kadang-kadang memang ada hujan tiba-tiba di siang hari yang terik. Sebaliknya ada sinar mentari terik walau semalam banjir masuk rumah sampai selutut.

jadi begitulah ceritanya. Silakan menikmati sore yang sejuk dengan semilir angin. Biarkan pikiran berbaring tenang yang telah lelah dari pagi hingga siang hari sambil memandangi senyum mentari yang perlahan tersapu malam. Dan lalu biarkan malam menyelimuti dalam damai.

Mungkin esok tak bermentari.

Mungkin esok mentari tidak terbit pukul tujuh pagi.

Mungkin esok hujan.

Mungkin esok mendung.

Siapa yang tahu?

Yang jelas aku berharap hari esok cerah.

Dan kalaupun tidak, aku akan mencoba menikmati

apa yang disuguhkan hari.

Mungkin itu yang terbaik.

Salah.

Pasti itu yang terbaik.

Makassar, 25 maret 2010

3 thoughts on “sebuah catatan kacau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s