Setangkup Roti Cokelat

~ Menumis Kangkung ~

Tumis Kangkung

Malam itu kau sedang memilih-milih channel televisi. Aku yang tertarik dengan sinetron “monyet dan akar pohon pisang” segera mengambil remote dengan cepat. Saat itu sambil menjulurkan lidah kau mencoba merampas kembali remote itu. Aku tidak mau kalah. Aku tarik remote itu. Kau tidak mau kalah. Kau tarik remote itu. Aku tarik. Kau tarik. Lalu kau tarik lebih kencang. Bukan remotenya tapi tanganku.

Aku menatap dengan tatapan heran.

“Mengapa ujung kuku ibu jari dan telunjukmu hitam?”tanyanya.

“Menurutmu?”tanyaku.

“Malas gunting kuku, ya?”dia kembali bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.

Aku tertawa. Ia makin menekuk wajah tidak mengertinya.

“Aduh… coba lihat baik-baik.”perintahku sambil  mendekatkan tanganku tepat di depan matanya. Tepat di matanya.

“Hey…! Aku kan tidak bisa melihat!!!”katanya setengah menjerit sambil marah pura-pura. Aku tertawa dan menjauhkan tanganku sedikit agar ia bisa melihatnya. Ia malah mengernyitkan dahi.

“Enak saja! Ini bukan tahi kuku!”kataku kemudian.

“Ingat tadi kita makan apa?”tanyaku.

“Tumis kangkung dan perkedel  jagung paling enak sedunia.”katanya gombal sambil mengedipkan sebelah mata.

“Nah, itu dia! Coba lihat baik-baik. Yang hitam ini  getah kangkung.”

Dia mendelik?

“Memang begitu ya? Kuku jadi hitam kalau memetik kangkung?” tanyanya kemudian.

Aku mengangguk mantap.

“Kenapa tidak memotongnya dengan pisau saja? Kukumu kan tidak harus menjadi hitam setelahnya”tanyanya kemudian.

Aku tersenyum sok bijak.

“Karena aku ingin memberimu tumis kangkung paling enak sedunia.”jawabku.

“Maksudnya?”ia kembali bertanya.

“Dasar dodol!”aku menjitaknya pura-pura.

“Jadi seperti ini. Kangkung itu bergetah. Cara menjinakkannya adalah dengan mengepreknya lalu memetiknya satu-satu dengan telunjuk dan ibu jari alias pakai tangan! Rasanya akan menjadi enak dan tidak sepat. Kalau aku menggampangkannya dengan memakai pisau, getahnya masih akan terasa di lidah. Rasanya akan sepat. Suka makan kangkung yang sepat?”jelasku kemudian sambil meletakkan sebuah pertanyaan di akhir penjelasan.

Ia menggeleng mantap sambil nyengir kuda. Aku mengangguk senang.

“Sini! Berikan remote itu dan jangan berisik. Aku mau nonton sinetron!”

***

Makassar, 25  Maret  2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s