Janji Siswa

Kamu pernah sangat menginginkan sesuatu? Amat sangat menginginkan. Ya, bahkan mungkin bukan sekedar ‘ingin’ tapi malah jadi ‘obsesi’? Dan kamu pun berusaha mewujudkan obsesi tersebut, hingga pada suatu hari ketika kau merasa tinggal selangkah lagi menggapainya, ternyata… ternyata… berhasil. Iya, berhasil, tapi bukan kamu. Sahabatmu yang berhasil mendapatkannya.

Pernah?

Saya mau cerita, yah, tentang pengalaman saya yang berkaitan dengan hal ini.

Sudah menjadi aturan siswa BLKI (Balai Latihan Kerja Indonesia) untuk apel pagi sebelum masuk ke dalam kelas,  pukul 07.30. Di akhir upacara, ada pembacaan Janji Siswa yang dibaca oleh perwakilan masing-masing kelas kejuruan dan diikuti oleh seluruh peserta upacara.

Dan demi Allah, ketika pertama kali saya mendengar Janji Siswa, saya langsung punya cita-cita baru -> menjadi pembaca Janji Siswa. :D

Waktu itu saya hanya diam-diam saja. Keinginan itu saya simpan di dalam hati. Ya, sampai si Nunung yang ada di depan saya berbalik lalu berkata, “Pasti kamu mau jadi pembaca Janji Siswa,kan?”

Ya, ampun! Saya belum bilang apa-apa tapi si Nunung, partner saya, ini sudah mengetahuinya. Kami lalu terbahak bersama-sama.

Karena kelas saya baru, jadi jadwal kelas saya membaca Janji Siswa mungkin sekitar satu bulan lagi. Tapi semenjak hari pertama itu, dibantu Nunung, saya sudah mendeklarasikan di teman-teman kelas saya, bahwa ketika giliran kelas kami tiba, saya yang akan membaca janji siswa itu. Ada bau-bau egois yah? Hahaha. Tapi seingat saya tidak ada kritik, tuh. Saya belum bilang, yah, kalau teman kelas AutoCAD di BLKI itu baik-baik dan lucu-lucu semua?

Yah, begitulah, waktu berjalan tanpa henti. Kami sekelas jadi makin akrab, makin ngerti AutoCAD, dan makin memahami bahwa Sup Ubi di kantin samping lebih sehat daripada Mi Bakso di kantin belakang. Serius!

Oh iya, dan jangan lupa donat gula di koperasi depan! Hihihi

Hingga pada suatu pagi yang cerah. Entah kenapa pagi itu saya dan Ijong terlambat berangkat ke BLKI. Sudah pukul tujuh dan kami baru mau keluar dari rumah saya.

“Ijong, kayaknya kita terlambat, deh.”

“Jadi, bagaimana? Kita putar-putar dulu sampai apel pagi selesai?”

“Umm, boleh juga. Hihihihi.”

Tanpa saya sadari, di langit ada awan yang bentuknya aneh sekali.

*angin berhenti berhembus*

*daun membeku*

*saya dan Ijong melewati gerbang BLKI, cekikian*

Sekitar sepuluh menit kemudian kami berhenti di pinggir jalan, lalu menelpon Nunung. Tapi telepon berkali-kali malah direject. Saya coba menelpon nomor lain tapi tidak ada yang diangkat. Sampai di situ perasaan saya sedikit tidak enak.

Sekitar sepuluh menit lagi saya mencoba kembali menelpon si Nunung. Diangkat!

Umm, sampai di sini saya, sumpah, sudah lupa bagaimana percakapannya berlangsung. Tapi kira-kira seperti ini.

“Halo, Nunung?”sapa saya dengan ceria.

“Kamu di mana?”

“Di pinggir jalan.Tadi saya sama Ijong telat, jadinya keliling-keliling dulu sambil nunggu apel pagi selesai.”

“ohh..”

“hahaha”

“Mir…”

“Kenapa, Nung?”

“Tadi kelas kita giliran baca Janji Siswa.”

“Eh, apa? HAPAHH??”

“Karena kamu tidak ada, saya yang baca Janji Siswa.”

“&^#*^#*^#^*&#^*&*

***

Saat sampai di kelas, saya sudah bisa lebih menerima kenyataan. Saya menghampiri Nunung yang sudah cekikian menyambut saya. Saya pun cekikian tapi lalu berakting pura-pura terluka, tertatih dan tak sanggup lagi serta tidak tahu arah jalan pulang. Ahh, dasar bocah! :’)

*tulisan ini dimulai tahun lalu dan baru selesai hari ini, ^^*

Makassar,  28 April 2013

kita sudah sarjana

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s